My First Birthday Present as a Mom

Aku baru tau rasanya setelah jadi ibu yang baru melahirkan. 

Sakit demam, sakit badan karena angkat beban berat atau bahkan perjalanan pulang-pergi pas kuliah ternyata nggak ada apa-apanya dibanding sakit badan setelah melahirkan. Tapi, ini bukan bicara tentang sakit jahitan atau sakit payudara, ya. Ini sakit badan ketika badan tanpa sadar standby 24 jam, bahkan saat tidur. Bukan standby aja, bahkan tidur pun beberapa kali harus duduk karena baby newborn kalau ditaruh ke kasur tuh kebangun. 

Sakitnya bahkan susah dijelaskan, deh. Sakitnya lebih-lebih dari meriang, karena mungkin badan juga baru recovery ya setelah perubahan yang drastis dari kondisi hamil ke kondisi normal. Apalagi aku melahirkan secara cesar, yang katanya efek dari suntik anestesi tuh agak sedikit kaku di tulang belakang diarea yang disuntik. Terutama ibu menyusui, kalau aku rajin minum kalsium kadang agak membantu mengurangi pegal-pegal yang rasanya di tulang itu, tapi kalau dibadan rasanya bingung mau diapakan. 

Dari 1 bulan setelah melahirkan rasanya mau sekali untuk badan ini dipijat, tapi selalu di tunda-tunda karena mementingkan anakku dulu. Setelah hampir 1 tahun baru memberanikan diri untuk coba pijet, bukan karena takut untuk pijet tapi karena sudah agak tenang anakku dipegang sama bapaknya hihihi. 

Beberapa bulan lalu suami menawarkan aku untuk pijet juga, tapi di tempat berbeda dan setelah browsing dan telaah lagi aku pilih disini aja, deh. Aku pernah liat postingan teman lamaku pergi kesini, jadi makin penasaran. Walaupun agak takut dan bingung aku memberanikan diri bilang suami untuk mau deh pijet sebagai kado ulang tahun. 

Aku cari tau ulasannya dari Google maps dan instagramnya, karena emang lokasinya deket banget dari rumah dan sering penasaran sama tempat ini. Chat contactnya untuk tau gimana caranya dan ada apa aja, sih. Walaupun udah ada info dari postingannya aku tetep tanya biar lebih lengkap informasinya. Nah... Ada menu pijet yang aku butuhkan banget. 

Ibu DBF tuh paling pegal pundak, punggung, dan pinggang. Jadilah aku pilih menu pijat Tuina namanya. 

Ini pertama kalinya aku datang ketempat seperti ini, dan pertama kalinya dipijat all body. Aku agak kikuk dan malu, tapi untung suami dan anakku antar sampai aku dipanggil.

Aku datang di hari Senin pagi sekitar jam 10-an, ikutin jadwal anakku bangun dari tidur paginya. Jadi alurnya tuh, kita daftar dan pilih menu pijat yang kita mau. Aku pilih Tuina yang harganya 160 ribu, Aku ditawarkan pakai cream hangat kena charge 20 ribu yang jadi totalnya 180 ribu. Suamiku bayar, tunggu sebentar dan dipanggil deh. 

Dipanggil dan dikenalkan sama yang pijat atau 'terapis' kita nanti, kita disuruh ikutin di terapis kita ini. Aku ditawarkan ke toilet dulu, terus nanti ditunjukkan ruangan kita. Pas masuk ruangannya, nyaman sekali, redup-redup tenang. Ruanganku ini ada sekitar 8 tempat tidur, ada yang di dipan kayu dan ada yang diranjang besi gitu. Aku kebetulan di dipan kayu. 

Sebelum aku gunakan kasurnya, kasurnya dialasi dengan yang baru. Aku di minta buka semua pakaian kecuali celana dalam dan pakai kain yang ditaruh diatas tempat tidur selagi terapisnya pergi, katanya kalau sudah nanti keujung dipan lagi untuk cuci cuci kaki. Terpisnya datang lagi dan lapkan kaki. Ditanya mau sekalian dipijat nggak kepalanya, dan aku bilang mau. 

Dimulai dengan sesi pijatnya dengan tekanan lembut dari kaki ke punggung, pas bagian punggung dan pinggang memang agak lama karena kan memang itu pointnya. Lalu pindah ke pundak, ini posisinya masih tengkurap ya. Terus pindah ke kaki lagi, ini lebih mendetail. Diminta balik badan, mulai dari kaki lalu ke tangan. Terlahir kepala. Aku kira udah sampai situ, ternyata diminta duduk diujung dipan lagi. Saat diminta tanda tangan sebagai bukti, pundaknya dipijat lagi sambil kakinya berendam di jelly hangat, dituang serbuk herbal dan jellynya jadi makin hangat lagi. Penutup sesi pijatnya badannya dioles cream hangat. 

Kertas yang sudah ditanda tangan tadi diminta dikasih ke kasir. Aku pakai baju lagi dan menuju kasir untuk kasih kertas tadi. Selama sesi pijat aku beberapa kali main HP untuk cek kondisi anak pas sama suami, tapi kadang juga males karena mau menikmati pijatan yang kadang terasa sakit juga hihihi mungki badan ini memang sudah terlalu kaku setelah berjuang hampir setahun ke belakang. 

Sampai dikasir, berikan kertas yang diminta, suami dan anakku sudah menunggu. Sebagai penutup sebelum pulang diberikan wedang jahe. Sebelumnya terapisnya sempat tanya, mau wedang jahe atau teh hangat, tentu saja aku mau wedang jahe hihihi. 

Pengalaman pijat pertama dalam hidupku ini sangat luar biasa sekali. Terima kasih suamiku sudah mengizinkan dan mendanai, Terima kasih anakku sudah mengizinkan Bunanya untuk me time dan tentu saja terima kasih kepada Allah sudah mengizinkan banyak hal terjadi didalam hidupku ini. Wishlist aku untuk hal ini tercapai, MasyaAllah allahumabarik

See you di cerita lainnya 🥰

Posting Komentar

0 Komentar