Selamat datang di Ruang Buna!!!
Ruang dimana aku berbagi ceritaaaaa..
Kali ini, seperti judulnya aku mau berbagi kisah tentang persalinan ku. Jadi, selamat membaca, ya 😊
Yap, aku bersalin dengan metode SC. Jadi SC itu adalah singkatan dari Sectio Caesarea atau lebih dikenalnya adalah operasi Caesar. Itu, loh, metode melahirkan dengan cara membedahan melalui perut ibu.
Kenapa sih metode ini terjadi padaku?!
Awalnya akh berpositif diri kalau ingin sekali melahirkan dengan cara normal alias per-vagina-an, Qodarullah sayangnya tidak bisa karena memang kata dokternya ada indikasi. Sejak masuk trimester 3 dikatakan kalau posisi kepalanya kurang tepat, ternyata sampai 40 minggu di pemeriksaan terakhir posisinya masih belum bagus dan pada saat itu pun air ketuban udah makin keruh, pengapuran plasenta pun udah derajat berapa gitu.
Jujur awalnya takut banget, bahkan nangis di ruang bersalin sambil ikhtiar dipancing dengan obat yang dimasukkan ke dalam vagina ditambah aku menyaksikan 2 ibu lain lahiran per-vagina-an disampingku. Sayangnya, walau sudah di coba 3 kali anakku belum bisa lahiran dengan jalan yang di bawah itu. Mungkin memang susah kali ya, mengingat posisi kepalanya kurang pas.
Iya aku takut di operasi, dan takut karena stigma orang bilang kalau lahiran normal lebih hebat dari pada melahirkan secara SC. 😖
Dengan mengucap bismillah dan tidak hentinya mengingat Allah dan tujuan memiliki anak, aku memberanikan diri. Berjalan sendiri menuju ruang operasi. Sebelum masuk ruang operasi, aku masuk ruang sterill dulu bersama seorang ibu yang akan jadi pasien kedua setelah aku. Di ruang steril itu semua pakaian dibuka, hanya pakai baju operasi yang terbuka bagian belakangnya. Kemudian dicukur bulu pubisnya oleh suster, untuk yang satu ini agak malu tapi hal ini memang sudah diketahui umum kalau ini adalah prosedur bedah.
Aku masuk ruang operasi dengan kursi roda. Ruangannya ternyata tidak se menyeramkan yang aku kira, dan tidak sebagus yang di film-film 😁 sudah ada beberapa orang, sekitar 3 orang. Aku dibantu naik tempat tidur operasi yang ukurannya kecil sekali, sangat pas dengan ukuran badanku. Aku dipinta duduk menunduk, tentu ini hal yang agak sulit karena dengan perut yang sangat besar. Lalu salah satu orang itu memintaku untuk merilekskan tubuh dan memberi aba-aba kalau aku akan disuntik anestesi. Percobaan pertama gagal. Gagal karena aku terlalu tegang, walaupun rasanya aku sudah coba untuk tenang. Percobaan kedua, berhasil. Rasanya, 6/10. Rasanya Pain tolerance ku agak tinggi, aku malah lebih fokus membayangkan aku di belakang dokter anestesi saat dokter mulai menancapkan jarum. Seolah-olah aku bisa membayangkan sejauh mana jarum itu masuk kedalam tubuhku.
Seketika aku dibanting tidur, dan seketika pinggang sampai ujung kakiku mulai kesemutan dan rasanya mulai hilang. Iya, aku seperti kehilangan kakiku. Mati rasa sekali. Aku berkali-kali coba menggerakannya tapi tidak bisa.
Dokter kandungan dan beberapa orang masuk, berdoa lalu mulai menjalankan tugasnya. Sampai disatu aba-aba, setengah badanku yang mati rasa terasa seperti terguncang. Dokter sedang mencoba mengangkat anakku. Aku mulai meringis karena rasanya mual, karena "terasa" bukan sakit. Dokter bertanya dan mengiyakan kalau memang "terasa".
Pertama kalinya diinfus dan pertama kalinya badanku dibelah dan kemudian dijahit.
Lalu suara tangis itu terdengar.
"Gede juga ini, 3,7 pantesan susah". Kemudian diperlihatkan padaku. Aku menangis, masih tidak percaya bahwa yang barusan aku lihat walau sekilas itu adalah anakku. Seketika hidungku yang dipasang oksigen mempet, dokter yang berada diatas kepalaku bilang untuk jangan menangis karena mungkin saturasi oksigennya akan jadi percuma.
Operasi selesai, aku digotong ke kasur yang berbeda, lalu dipindahkan ke ruang sterill yang lain. Di Koridor. Sendirian. Datang seorang dokter laki-laki bilang kondisi anaku baik, kemudian berlalu lagi. Itu adalah dokter anak yang mungkin mengecek kondisi anaku.
Badanku bergetar hebat.
Aku takut, badanku bergetar diluar kendali. Semakin aku coba tenang getarnya semakin hebat. Aku takut. Aku sendirian.
Karena ruangan kelasku penuh, aku menunggu di ruang yang lain. Kasur ku didorong menuju kamar, aku berguman bahwa begini rasanya tidur di kasur yang didorong. Rasanya aneh dan tidak berdaya.
Ruangan yang ramai, rasa mual yang datang. Efek anastesi memang membuat mual yang luar biasa, tapi hanya sebentar. Aku masih mencoba merasakan kakiku, masih agak mati rasa tapi aku berusaha keras untuk menggerakkannya. Aku operasi siang hari, dan malamnya aku sudah bisa duduk (kalau gak salah). Aku sudah bisa meraskaan kakiku, sudah bisa duduk, sudah bisa berjalan. Perutku masih mati rasa.
Sangat hati-hari untuk batuk, bersin, dan tertawa. Rasanya jahitannya takut lepas, rasanya perut ku tertusuk.
Saat pertama kali anakku diantar oleh suster, rasanya sebuah kado datang padaku. Aku sempat meragukan diri. Sekarang manusia kecil yang tumbuh 9 bulan di perutku sudah benar-benar ada didepan mataku, bisa aku peluk. Sekarang aku sudah punya anak. Hal yang aku pinta selama 6 bukan setelah menikah, sekarang hadir antara aku dan suamiku.
Air mataku rasanya tidak mau keluar. Kali ini rasanya terlalu bahagia sampai tidak bisa menangis. Rasanya susah dijelaskan.
Karena ternyata hal yang kemudian membuat aku menangis adalah menyusui karena sakitnya luar biasa. Ditambah dengan kurang tidur, posisi tidur yang tidak nyaman. Rasanya badanku hancur, retak, dan ringkih.
Hal yang ternyata tidak pernah aku bayangkan tentang masa pemulihan adalah, suamiku banyak membantu aku. Mamaku yang rela masak ikan gabus walaupun pasti gak enak karena penjenguk bilang hal ini berkali-kali. Dan aku, aku ternyata bisa melakukan semuanya sendiri setelah lepas bantuan orang tua setelah seminggu. Ya, aku bisa mandiin anakku sendiri.
Untuk persalinan SC memang butuh recovery yang cukup lama, karena lukanya cukup besar dan berlapis-lapis. Beberapa gerakkan yang tidak disadari kadang membuat 1 titik sakit yang tidak tau letak pastinya dimana bisa terasa. Dukungan dan bantuan untuk ibu setelah melahirkan memang diperlukan sekali, jangan ada deh omongan aneh, tanya perlu bantuan yang bisa dibantu gak atau hal lain yang bisa meringankan kan beban ibu setelah melahirkan.
Kalau bisa mengulang hari ceasar ku, mungkin aku akan mengingat lagi perjalanan itu menjadi perjalanan yang luar biasa tanpa harus merasa bahwa pilihan itu adalah pilihan yang buruk. Aku tidak perlu khawatir omongan orang kalau buna yang melahirkan lewat operasi itu tidak keren atau kurang sempurna. Walaupun bekas lukanya masih terlihat jelas, masih agak ngeri waktu melihat dan menyentuhnya aku merasa bangga.
Aku bangga dengan luka sayatan, stretchmark di beberapa bagian, payudara yang kendur, dan tidur yang tidak selalu nyenyak. Mengandung dan melahirkan ini enggak selalu hadir tiap waktu, hanya beberapa kali aja dalam hidup, dan mungkin ini adalah bentuk kenang-kenangan yang nyata bahwa perjuangan itu ada.
MasyaAllah aku sangat-sangat bersyukur atas semua berkah ini 🥰
Cukup sekian tulisan kali ini, semoga bermanfaat dan semoga membuka perspektif lain tentang gambaran melahirkan dengan proses ini.
See You Next Post :)


0 Komentar