Pernah nggak sih kamu, dalam kemarahan sesaat, berharap seseorang "lenyap" saja? Serial thriller supernatural Korea If Wishes Could Kill (2026) mengangkat pertanyaan itu ke level paling mengerikan. Berlatar di SMA Seorin, lima orang siswa yang saling bersahabat menemukan aplikasi misterius bernama Girigo yang mampu mengabulkan keinginan terdalam mereka. Namun di balik itu, ada harga yang jauh lebih mahal dari sekadar keinginan: setiap permintaan yang terkabul akan memicu countdown kematian 24 jam bagi si pengguna. Satu-satunya cara selamat? Memaksa orang lain menerima kutukan tersebut.
Yang membuat series ini berbeda dari film Wish Upon atau cerita klasik The Monkey's Paw adalah kemasannya yang sangat modern dan "Korea banget". If Wishes Could Kill menggabungkan ketakutan generasi Z terhadap teknologi dengan elemen shamanisme tradisional Korea atau istilahnya kelinik. Aplikasi Girigo ini tidak sekadar mengabulkan keinginan, tetapi juga mengubah si pengguna menjadi salah satu bagian dari rantai kutukan yang harus terus berlanjut. Aturan "operan maut" ini menciptakan dilema moral yang luar biasa: maukah kamu mengorbankan orang lain hanya untuk tetap hidup?
Dibintangi oleh Yoo Se-ah diperankan oleh Jeon So-young, seorang atlet lari yang menjadi tombak investigasi, series ini berhasil membuat penonton ikut merasakan tekanannya. Lim Na-ri diperankan Kang Mi-na, sahabat yang terjebak rasa cemburu, juga tampil memukau dengan transisi emosi dari manis menjadi gelap. Meski demikian, ada satu atau dua karakter pendukung yang terasa kurang dieksplorasi dan hanya berfungsi sebagai "alat plot" untuk memajukan kutukan. Tapi secara keseluruhan, akting para pemain muda ini cukup kuat untuk membuatmu ikut cemas setiap kali notifikasi Girigo muncul di layar.
Salah satu adegan paling menguras emosi adalah ketika salah satu karakter harus memilih antara membiarkan dirinya mati atau menyerahkan kutukan kepada orang yang justru paling ia sayangi. Tanpa spoiler terlalu banyak, ada satu momen di episode 6 yang membuatku berhenti sejenak dan bertanya, "Kalau aku jadi dia, apa yang akan aku lakukan?" Series ini juga piawai membangun suasana waspada terus-menerus. Namun sayangnya, pacing di dua episode tengah terasa sedikit melambat karena terlalu banyak adegan investigasi yang berulang.
Dari sisi visual, sutradara Park Youn-seo (Moving, Kingdom S2) menggunakan palet warna dingin—biru keabu-abuan dan hijau gelap—yang sempurna merepresentasikan dinginnya hati para karakter saat mereka mulai terbiasa dengan kutukan. Musik latarnya juga tidak bombastis, justru sunyi dan menusuk, seperti detak jam yang terus berjalan menuju kematian. Untuk endingnya, If Wishes Could Kill memberikan kesimpulan bittersweet yang terasa cukup memuaskan, ditambah satu adegan post-credit yang secara gamblang mengisyaratkan potensi season 2. Dan siklus kutukan pun tampaknya akan terus berulang.
Secara keseluruhan, If Wishes Could Kill layak mendapat nilai 8/10. Series ini cocok banget untuk kamu yang suka thriller psikologis dengan sentuhan supernatural, terutama jika kamu menikmati The Cursed (2020) atau Night Has Comes (2023). Kelemahan utamanya hanya pada beberapa karakter yang kurang tergali dan pacing yang sedikit naik-turun. Tapi sebagai tontonan 8 episode dengan durasi sekitar 40–50 menit per episode, series ini cukup padat dan membuatmu bergumul dengan pertanyaan: "Jika aku punya satu kesempatan seperti itu, akankah aku berani mengucapkannya?
0 Komentar