Ada benarnya!
Memang ya, kita enggak akan pernah tau atau merasakannya kalau kita belum ada di titik tersebut, begitu pun tentang motherhood ini. Kita enggak akan bisa menyamakan pengalaman orang dan yang kita miliki. Kepribadian kita dan anak kita pasti berbeda dengan orang lain, paling yang sama hanya beberapa hal aja.
Aku mau berbagi cerita tentang perjalanan meng-ASI-hi anak pertamaku sebagai new mom yang masih meraba-raba banyak hal. Tapi, disclaimer banget mungkin di tulisan ini akan ada bahasan vulgar yang tidak nyaman atau terkesan aneh, mohon dimaklumi, ya.
Aku mau cerita jujur tentang apa yang aku rasa dan aku alami.
Saat mengandung aku berdoa semoga aku bisa memberikan ASI ekslusif untuk anakkku, karena yang alami lebih baik. Trimester 3 akhir, aku mulai ikuti saran untuk membersihkan bagian puting yang katanya bisa memicu konstraksi alami dan membuka saluran ASI agar tidak tersumbat. Saat membersihkan aku tekan sedikit dan keluar air sedikit keruh, aku bersyukur ternyata sudah ada sinyal kalau ASI-ku sudah ada. Selalu berdoa semoga diberikan rezeki ASI yang cukup untuk anakku.
Hal yang membuat aku worry adalah bentuk puting yang rata, yang katanya akan membuat pelekatan jadi tidak tepat dan menimbulkan sakit. Aku tau ini dari postingan tentang kehamilan, tentu aja ini yang dorong aku untuk makin banyak baca-baca. Setiap bagian tubuh perempuan memang istimewa dan berbeda-beda, ada yang mungkin begini dan ada yang mungkin begitu.
Setelah melahirkan, aku sempat bingung bagaimana cara menyusui anakku untuk pertama kalinya. Entah kenapa saat itu rasanya blank, jadi aku ikuti naluriku aja. Sempat sulit menyodorkannya ke mulut bayi yang masih baru juga untuk menyusui, tapi alhamdulilah nya mulai terbiasa walau masih terkesan kaku. Tadinya, aku mau collect collostrum (collostrum itu ASI pertama setelah melahirkan, katanya bagus untuk daya tahan tubuh bayi) karena enggak jadi beli tube-nya aku pilih langsung DBF aja. Semua berjalan lancar di rumah sakit, bahkan aku sudah merasa jago.
Aku kira pas di rumah sakit konselor akan ajarkan cara DBF dengan teliti, ternyata enggak ya. Cuma tanya udah bisa nyusuin atau belum.
Semuanya berubah setelah sampai rumah. Semuanya menjadi lebih berat dan lebih sakit. Luka jahitan SC memang masih kebas, tapi tubuh aku berusaha kuat untuk menstabilkan segalanya. Walaupun rasanya kangen sekali dengan rumah dan kamar, entah kenapa suasananya jadi agak asing. Sekarang di rumah sudah tambah satu personil baru.
Jadi mulai belajar mengetahui jadwal bayi menyusu yang artinya seperti mengetahui kalau ternyata lama kelamaan rasa sakit itu muncul. Iya, rasanya seperti di raut. Saat si bayi kenal dengan rasa laparnya, semakin bayi tau cara mendapatkannya dengan benar jadinya auto daya hisapnya jadi makin kencang. Dulu yang aku takutkan adalah supply ASI, sekarang berubah jadi rasa takut untuk menyusui.
Aku tiap hari jadi takut untuk menyusui anakku, padahal ASI ku cukup banyak bahkan sampai merembes. Aku bahkan bisa membayangkan rasa sakitnya saat anakku belum memintanya, tapi kalau tidak di berikan rasa sakitnya hanya turun 1 level. Oh, ya btw, aku sempet pumping tapi hanya 2 kali saja, pumping yang rasanya menambah kerjaanku terutama pumping yang aku punya tidak hands-free. Pumping pun rasanya tetap sakit. Big applause untuk ibu yang dbf juga pumping apalagi ibu pekerja yang pumping, masyaallah banget capeknya pasti.
Aku bahkan sampai meminta suami untuk dibelikan pelindung nipple, tapi ternyata rasanya tetap saja sakit. Sepertinya, rasa sakit itu muncul karena terus-terusan dikenyot, ditambah dengan gesekkan dengan lidah dan hard palatenya , dan durasi menyusui yang lama. Aku pakai pelindung nipple yang seperti ini , entah aku pakainya kurang tepat atau gimana tapi rasanya tetap saja sakit.
Aku lalu minta tolong belikan pompa asi manual yang bentuknya kayak teko tanpa gagang gitu, seperti ini . Pompa asi manual cukup nyaman dipakai dan tidak sesakit pumping sakitnya hanya diawal aja sedikit. Tapi ternyata aku juga masih terlalu mager untuk pakainya. Karena ukuran pompa asi manual yang agak panjang jadi menyulitkan aku saat duduk atau tiduran, aku beli asi collector yang kayak pad diselipkan di bra seperti ini , cukup membantu untuk mengurangi rembesan pada baju biar gak gampang bau. Dua hal sebelumnya agak membantu untuk wadah penampung ASI berlebih saat bagian yang satunya dipakai untuk DBF.
Kalau enggak salah sakit saat menyusui ini berlangsung 3-4 bulan, setelahnya rasanya sudah kebal dan terbiasa. Masa-masa trauma dan nangis-nangis kesakitan untuk menyusui sudah terlewati, tapi badan pegel-pegalnya makin terasa karena durasi menyusuinya makin bertambah.
Ternyata, senikmat ini menjadi ibu. Semoga segala perjuangan ibu untuk memberikan yang terbaik di ganjar pahala yang berlimpah, rezeki yang lancar, kesehatan dan kebugaran tubuhnya selalu terjaga, keluarganya harmonis selalu, suaminya dukung secara mental dan fisik juga.
Begitulah pengalamanku saat awal-awal menjadi ibu; melahirkan dan menyusui. Benar-benar tidak mudah, dan benar-benat butuh support baik mental juga finansial. Alhamdulillah rezeki anak memang selalu ada, salah satunya adalah anak itu sendiri. Aku mungkin nanti akan lupa timelinenya, tapi mungkin aku akan selalu ingat rasanya. Karena nikmat yang campur aduk ini memang sulit dijelaskan oleh kata-kata, semoga Allah mengabulkan doa-doa para pejuanh garis dua, memudahkan segala perjalanan ibu dan ayah baru, aamiin
Sekian tulisan ini di #RuangBuna sampai ketemu ditulisan lainnya ❤

0 Komentar